Saturday, December 27, 2008

Jelang Pemilu Lahirkan Banyak 'Dermawan'

Warga di kawasan Bantul dan Yogja akhir-akhir ini tengah gila memancing. Di mana-mana terdapat kolam ikan. Lomba mancing juga marak. Hadiah yang ditawarkan juga cukup menggiurkan, mulai dari handphone hingga sepedamotor.

Seorang teman mengatakan: "Ini tanda-tanda jaman. Sasmita yang menarik untuk direnungkan. Dan pasti ada sesuatu yang tak beres", katanya suatu malam, ketika kami nongkrong di depan Gereja Ganjuran

Coba dech amati, lanjutnya, ada korelasi antara menjelang pemilu dengan ledakan musim mancing. "Pemilu khan saat para caleg memancing suara. Dengan cara apapun. Termasuk memanfaatkan event lomba mancing", tegasnya.

Benar juga, pikir saya. Maka jngan heran kalau setiap menjelang pemilu, muncul para 'dermawan'. Para dermawan itu lahir secara tiba-tiba, dalam rangka cari simpati. Buntutnya cari dukungan suara. Para 'dermawan' dadakan itu tak lain barisan caleg yang tak mengakar di masyarakat. 

Mereka tebar pesona dengan menunggang kegiatan-kegiatan masyarakat. Memberi dana untuk event tertentu. Termasuk memberi bantuan fulus untuk penyelenggaraan lomba-lomba seperti itu. Kegiatan inipun tak lepas dari sasaran tebar pesona 'dermawan' dadakan. Mereka bisa bantu penyediaan, ikan, hadiah, atau lokasinya. Mereka memancing suara. "Dalam tiga bulan ini saya dengar ada puluhan kali lomba mancing yang disponsori calon legislatif. Tapi sebenarnya mereka itu ah...payah", kata teman saya sambil mengacungkan jari kelingking.

Tapi ingat, setelah pemilu selesai, pemancingan suara-pun usai. Setelah para 'dermawan' dadakan tersebut sukses menikmati kursi legislatif, usai sudah peran mereka menjadi 'dermawan'. 

Usai sudah kepedulian mereka pada pemilih (konstituen) yang membantu mendongkrak perolehan suara mereka. Mereka kemudian 'ngronggos' di sarang nikmatnya. Sulit dipancing keluar meski ada pengaduan problem yang menimpa konstituen (pemilihnya). Mereka mirip belut yang 'lunyu' dipegang. Nggak percaya, buktiin aja dech. 

Makanya, teliti sebelum memilih. Tengok track-record mereka. 

Warga Penerima Kompor Gas Masih Takut Menggunakan

Ratusan, bahkan ribuan warga penerima kompor gas di kawasan Bantul hingga kini masih takut menggunakan untuk memasak. Ketakutan itu akibat adannya pemberitaan seputar meledaknya kompor gas konversi di berbagai tempat . 

Hingga kini, paket kompor itu masih disimpan. Bahkan malah ada yang menjualnya kepada para tengkulak yang keluar masuk kampung memburu paket dari pemerintah tersebut. Mereka rata-rata menjual seharga Rp150.000 per paket. Di kawasan pedesaan umumnya lebih suka menggunakan kayu daripada gas.  Kayu bekas bongkaran rumah paska gempa melimpah di kawasan itu.